1. 8 months ago 

    Hujan

    Tidak terasa. Hari berganti hari, Musim pun kelam akan berganti juga. Akhir-akhir ini hujan sudah jarang mengguyur tempatku, mungkinkah sekarang sudah mulai musim panas? Saya selalu lupa kalau musim hujan adalah satu dari sekian hal terfavorit di hidup saya. Membaca ditemani secangkir kopi saat hujan atau tidur dimalam hari saat hujan. Bukankah itu terasa nyaman?

    Ah, musim hujan. Saya selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi pas hujan selesai, dan merenung sendiri dari balik kacamata yang berembun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.

    Saya suka hujan. Saya suka menyetir mobil di bawah hujan sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang dipenuhi oleh titik-titik air. Lalu saya menghapusnya dengan wiper, yang tentu saja percuma, hanya untuk melihatnya basah kembali: setitik demi setitik demi setitik demi setitik… hingga saya menghapusnya lagi. Dan ulangi. Lalu saya menyetel radio, bernyanyi sumbang, yang tersamarkan oleh bunyi kaca yang ditempa air.

    Saya suka hujan. Apalagi ketika saya berada ditengah-tengah kerumunan tetesan air, lalu kita meneriakan teriakan kegembiraan yang menurut saya itu adalah suatu kebahagiaan tak terlupakan. Menari, Bermain bola bersama teman. Ya, teman-teman saya sewaktu kecil. Merekalah yang membuat saya menyukai dengan apa yang namanya hujan.

    Tapi saya selalu takut dengan badai. Dengan kemampuannya untuk merusak, menghancurkan yang telah ada. Menyapu bersih apa yang pernah saya bangun. Menelan semuanya dalam satu kali jentikan jari, atau kurang. Badai dengan angin kencang, petir nyaring, dan kilatan yang menyilaukan mata. Badai bisa membuat orang hilang. Badai bisa membuat orang bimbang. Badai bisa, menyesatkan.

    Dan ketika badai semacam itu datang, yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menari di bawah hujan.

    “Life is not about waiting the storm to pass. It is about dancing in the rain”

    Saya masih ingat, masih terekam semua. Ketika kita hujan-hujanan disela perjalanan pulang dengan motor saya. Ketika kita berhenti sejenak untuk berteduh dan saya paksa kamu untuk mengenakan jaket kotak-kotak coklat-merah kesayangan saya, lalu kita lanjutkan dengan paksa perjalanan sementara saya hanya mengenakan kaos, ditengah-tengah jalan Bypass kita hujan-hujanan, dan sampai akhirnya hujan pun memberikan dua perasaan yang bertolak belakang. Bahagia. Ya, saya senang bahagia bisa merasakan hujan-hujanan bersama dirimu. Cemas, Saya cemas jika ternyata kamu justru membenci hujan yang dimana itu hanya sebuah air biasa yang akan membuat kamu sakit-sakitan. Maka dari itu, Kita pun kembali berteduh. Berteduh dengan banyaknya gemercik air, yang selalu membawa kecemasan dan hari itu hujan memberiku kecemasan.

    Saya cemas, apakah saya bisa selamanya seperti ini? Bisakah? Tuhan?

    Disaat bersamaan ingin rasanya memeluk dia. Tapi ini dipinggir jalan, banyak orang juga. Bahaya. Bisa dilemparin helm. Sakit.

    Sayang, Saat itu saya tidak menawarkan salah satu kebahagiaan saya, Ya, Berteriak dan menikmati hujan. Buat apa? Kita sudah mahasiswa, bukan lagi bocah 8 tahun. Gengsi dong? Ga malu diliatin orang-orang?

    Tidak.

    Tetapi saya takut. Takut, untuk menawarkan semua kegilaan yang saya miliki. Takut untuk menawari sifat kekaguman saya yang abnormal itu kepadamu.

    Saya masih takut.

    Hei, kamu. Pegang tanganku. Jika hujan kembali datang,
    Kita menari bersama. Ya?

  2. Notes

avatar_128
 
 
Welcome.
You can also see me on Facebook and Twitter
 
 

Following

felicebarneyoldmarvelousoverture1992dnyrprdtnuywulandarilevanianabilahartaricheryl-tweedyferrasekandaryeniaw
 

Tumblr