Untitled. seperti judul film bokep, not is it not. Ini cuman tulisan yang saya sendiri gatau pingin ngasih judul apa dari beberapa aspek perasaan yang saya punya lalu digambarkan kembali dalam bentuk nyata, sebuah tulisan.
Well, saya pernah jatuh cinta, kebetulan itu first love saya dan saya ingin menulis, menggambarkannya kembali tentang rasa itu.
Tapi, ini masalah pertama yang menghambat. Saya memang suka menulis, Cita-cita awal saya memang ingin menjadi seorang jurnalis. Tetapi, Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat boring, menye-menyenya, atau apalah itu. sehingga tulisan tentang cinta yang saya buat ini benar-benar dari dalam diri saya. tidak seperti novel-novel cinta lainnya atau film-film ftv. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti sebuah artikel 1001 gombalan maut edisi 2011.
For me, what I have with you.
lebih dari analogi yang melibatkan serangga. Ribet, You know?
Let me get a shot, jika ingin dianalogikan. Mungkin bisa seperti ini: falling in love with you is like kita pergi ke undangan mewah yang banyak disediakan makanan-makanan mewah yang bikin kita kalap. Semua detail-detail dari sifat yang kamu tawarkan. misterius-nya kamu, egonya kamu, semua kejutan-kejutan kamu, moody-nya kamu. seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat saya yang menagih dan tidak pernah puas, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up. I can’t get enough of you.
Pernah suatu hari teman saya berbicara: “Hei! Kemana aja? Jadi ga pernah ngumpul lagi sekarang, ada masalah? Jadi sombong ya!” Saya: “Im in love” dan Teman saya memberi pukulan balik: “And your love need sacrifice! you cost your friends!” Saya hanya terdiam ingin rasanya membalas: SUKA SUKA GUE! but it doesn’t matter. ini jalan yang saya pilih. saya pilih dia, yang mengisi hari-hari saya setiap hari. tidak ada yang lain.
Maybe I can’t find cool analogies or write a lovey dopey poem. I definitely can’t write music. I’m an amateur writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.
So, I’m gonna make this simple, the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.
And I love being with you! I love your giggle, your silly face when you wear silly glasses, your energetic story-telling, your eye brow (Like Oscar in Sesame street). I love when our hands meet, i love when you say “HMMMM”,Oh and I love the way you walk, speech, the way you sing and how you apply your personality. I love when you wink your eyes. those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you have done completed me.
Thus, when they ask me: why do you love her? do you really-really love her? and I can safely say: what is not to love?
So, I was adding you to part of my awfully nice memories. Thanks.