“The idea that we can only be complete with another person is evil! Right?”
Begitulah kalo tidak salah. Pernah saya baca dari salah satu buku favorit saya. Ya, Saya setuju. Jika logika berpemikiran seperti: ‘Kita hanya bisa sempurna jika ketemu dengan soulmate kita’ adalah sesuatu yang jahat.
Bagaimana kita bisa tahu itu soulmate kita? Bagaimana kita bisa yakin, terhadap orang yang kita cintai bahwa dia memang satu-satunya orang yang kita cintai. Seperti lagu The One-nya Maliq & d’Essentials:
getaran jiwa mengungkapkan maksudnya
aku di sini merasakan indahnya
katakan bila engkau bukan untukku
karna ku kini tak dapat berpindah ke hati yg lain
Lady i know u’re the one for me
lady u’re the one i need
it keeps me going on and on to love you
i give u my soul for u to love too
Lady i know u’re the one for me
i know u’re the one i need
it keeps me going on and on to love you
i give u my soul for u to love too
Lagian, apa pula konsep “the one” itu? Konsep yang berkata kita hanya sempurna dengan orang lain, adalah konsep yang benar-benar, gagal.
Kenapa sih kita baru bisa dibilang komplit dengan kehadiran orang lain itu? Kenapa gak dengan kehadiran sebuah barang atau hobi? Baru kita bisa dibilang komplit? Kenapa harus dihubungkan dengan orang lain? Kenapa kesempurnaan kita, sebagai manusia, harus diindikasikan dengan kita bertemu dengan soulmate kita, ya orang the one itu?
Lalu, bagaimana dengan manusia selama hidupnya, hanyalah seseorang yang tidak mempunyai pasangan seumur hidupnya, yang mungkin mati sendirian? Lalu, bagaimana dengan orang yang memilih untuk tidak pernah mencintai orang lain? Atau juga bagaimana dengan seseorang yang mencintai dengan tulus, yang telah mengorbankan semuanya lalu orang yang dicintainya tersebut justru tidak memberikan feedback kepadanya? Cinta bertepuk sebelah tangan.
Seperti buku yang pernah saya baca. “Cinta yang bertepuk sebelah tangan, rasanya adalah hal yang paling bikin ngais tanah yang bisa terjadi pada diri kita. Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.”
Sedangkan, perjuangan melawan cinta adalah perjuangan melawan ingatan. Bagi orang yang cintanya tak berbalas, melupakan seseorang adalah tahap yang paling krusial sekaligus paling susah untuk dilakukan. Bengong dikit, keinget dia lagi. Nyoba kenalan sama orang baru, eh inget lagi. Makanya, sekarang ada istilah “mentok” yang dipakai untuk menggambarkan orang yang gak bisa move on.
Sang penulis juga pernah menuliskan seperti ini: “Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa selai kacang seperti cinta yang tak berbalaskan.”
Emang bener. Semua jadi ga ada rasanya.
Tapi, yang jadi pertanyaan sekarang adalah. Apakah dia, yang akan menghilangkan rasa selai kacang dilidah saya?
Well, Tiga hari ini saya lagi rajin-rajinnya nulis. Menulis untuk apa? Saya juga gak tau. Semua itu tiba-tiba muncul dari kepala, kata demi kata. kalimat demi kalimat hingga menghasilkan suatu paragraf. Mungkin faktor bosan? Ya mungkin saya bosan. kesepian. Atau, apalah itu.
Terkadang ada banyak yang ada di kepala saya, tapi saya gak tau gimana cara menuliskannya, karena hmm well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Saya coba tarik napas dalem-dalem, dan coba saya urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala saya saat ini (kebanyakan pikiran galau. Desperate tjoy!), saya coba biarin jari saya gerak sendiri, menyampaikan apa yang ada di kepala.
Ok, Here goes:
1. Saya gak pernah ngerti sama diri saya sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat saya. Bisa ngebuat saya kecewa, dan saya gak pernah ngerti kenapa kekecewaan ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan saya sendiri… lama-lama ngebunuh dari dalam… dan mati. Saya gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Saya gak pernah ngerti kenapa buat saya, what has done yah done.. the damage has been done, and nothing we can do about it. There is absolutely nothing we can do about it. Kenapa? Kenapa saya gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa saya harus membuat semua hal sempurna? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang perfeksionis… atau menjadi orang yang tak pernah puas?
2. Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada, dan kita terus mengejar kesempurnaan, apa saya berarti mengejar sesuatu yang tidak ada? Dan kalau yang namanya memaafkan itu berarti melupakan, bagaimana cara melupakan sesuatu yang telah kita maafkan? Bahkan jika hal tersebut tidak seharusnya terjadi?
3. Bagaimana kita tahu apa yang pilih itu “benar”? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita. Relativisme dalam contoh yang paling sempurna. Filsafat katanya bisa membantu kita memecahkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, tapi yang ada justru pertanyaan satu mengikuti pertanyaan lain. Cuih.
4. Kgn.
Well. Nulis apa sih?
Tidak terasa. Hari berganti hari, Musim pun kelam akan berganti juga. Akhir-akhir ini hujan sudah jarang mengguyur tempatku, mungkinkah sekarang sudah mulai musim panas? Saya selalu lupa kalau musim hujan adalah satu dari sekian hal terfavorit di hidup saya. Membaca ditemani secangkir kopi saat hujan atau tidur dimalam hari saat hujan. Bukankah itu terasa nyaman?
Ah, musim hujan. Saya selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi pas hujan selesai, dan merenung sendiri dari balik kacamata yang berembun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Saya suka hujan. Saya suka menyetir mobil di bawah hujan sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang dipenuhi oleh titik-titik air. Lalu saya menghapusnya dengan wiper, yang tentu saja percuma, hanya untuk melihatnya basah kembali: setitik demi setitik demi setitik demi setitik… hingga saya menghapusnya lagi. Dan ulangi. Lalu saya menyetel radio, bernyanyi sumbang, yang tersamarkan oleh bunyi kaca yang ditempa air.
Saya suka hujan. Apalagi ketika saya berada ditengah-tengah kerumunan tetesan air, lalu kita meneriakan teriakan kegembiraan yang menurut saya itu adalah suatu kebahagiaan tak terlupakan. Menari, Bermain bola bersama teman. Ya, teman-teman saya sewaktu kecil. Merekalah yang membuat saya menyukai dengan apa yang namanya hujan.
Tapi saya selalu takut dengan badai. Dengan kemampuannya untuk merusak, menghancurkan yang telah ada. Menyapu bersih apa yang pernah saya bangun. Menelan semuanya dalam satu kali jentikan jari, atau kurang. Badai dengan angin kencang, petir nyaring, dan kilatan yang menyilaukan mata. Badai bisa membuat orang hilang. Badai bisa membuat orang bimbang. Badai bisa, menyesatkan.
Dan ketika badai semacam itu datang, yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menari di bawah hujan.
“Life is not about waiting the storm to pass. It is about dancing in the rain”
Saya masih ingat, masih terekam semua. Ketika kita hujan-hujanan disela perjalanan pulang dengan motor saya. Ketika kita berhenti sejenak untuk berteduh dan saya paksa kamu untuk mengenakan jaket kotak-kotak coklat-merah kesayangan saya, lalu kita lanjutkan dengan paksa perjalanan sementara saya hanya mengenakan kaos, ditengah-tengah jalan Bypass kita hujan-hujanan, dan sampai akhirnya hujan pun memberikan dua perasaan yang bertolak belakang. Bahagia. Ya, saya senang bahagia bisa merasakan hujan-hujanan bersama dirimu. Cemas, Saya cemas jika ternyata kamu justru membenci hujan yang dimana itu hanya sebuah air biasa yang akan membuat kamu sakit-sakitan. Maka dari itu, Kita pun kembali berteduh. Berteduh dengan banyaknya gemercik air, yang selalu membawa kecemasan dan hari itu hujan memberiku kecemasan.
Saya cemas, apakah saya bisa selamanya seperti ini? Bisakah? Tuhan?
Disaat bersamaan ingin rasanya memeluk dia. Tapi ini dipinggir jalan, banyak orang juga. Bahaya. Bisa dilemparin helm. Sakit.
Sayang, Saat itu saya tidak menawarkan salah satu kebahagiaan saya, Ya, Berteriak dan menikmati hujan. Buat apa? Kita sudah mahasiswa, bukan lagi bocah 8 tahun. Gengsi dong? Ga malu diliatin orang-orang?
Tidak.
Tetapi saya takut. Takut, untuk menawarkan semua kegilaan yang saya miliki. Takut untuk menawari sifat kekaguman saya yang abnormal itu kepadamu.
Saya masih takut.
Hei, kamu. Pegang tanganku. Jika hujan kembali datang,
Kita menari bersama. Ya?
Saya benci ketika logika saya bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Saya benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate saya cari dengan paksa karena saya benci untuk tahu bahwa anda bisa saja sempurna, anda bisa saja tanpa cela
Saya benci jatuh cinta. Demi Adang, saya benci jatuh cinta kepada anda. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini, di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan..
Saya takut kembali sendirian. diruang kosong. Sunyi. Tanpa ada bayangan anda lagi, dikehidupan saya.
Untitled. seperti judul film bokep, not is it not. Ini cuman tulisan yang saya sendiri gatau pingin ngasih judul apa dari beberapa aspek perasaan yang saya punya lalu digambarkan kembali dalam bentuk nyata, sebuah tulisan.
Well, saya pernah jatuh cinta, kebetulan itu first love saya dan saya ingin menulis, menggambarkannya kembali tentang rasa itu.
Tapi, ini masalah pertama yang menghambat. Saya memang suka menulis, Cita-cita awal saya memang ingin menjadi seorang jurnalis. Tetapi, Saya takut menulis tentang cinta. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat boring, menye-menyenya, atau apalah itu. sehingga tulisan tentang cinta yang saya buat ini benar-benar dari dalam diri saya. tidak seperti novel-novel cinta lainnya atau film-film ftv. Saya tidak ingin tulisan yang saya buat jadi terlihat seperti sebuah artikel 1001 gombalan maut edisi 2011.
For me, what I have with you.
lebih dari analogi yang melibatkan serangga. Ribet, You know?
Let me get a shot, jika ingin dianalogikan. Mungkin bisa seperti ini: falling in love with you is like kita pergi ke undangan mewah yang banyak disediakan makanan-makanan mewah yang bikin kita kalap. Semua detail-detail dari sifat yang kamu tawarkan. misterius-nya kamu, egonya kamu, semua kejutan-kejutan kamu, moody-nya kamu. seperti di tawarkan dalam piring-piring buffet dengan silver platter yang menyala rapih. Dan kuambil. Kukonsumsi. Namun, aku masih kelaparan. Lalu kuambil, kukonsumsi kembali. Dan aku, tetap kelaparan. Saya bisa menyalahkan ini kepada sifat saya yang menagih dan tidak pernah puas, atau kepada kamu yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya. I can only sum it up. I can’t get enough of you.
Pernah suatu hari teman saya berbicara: “Hei! Kemana aja? Jadi ga pernah ngumpul lagi sekarang, ada masalah? Jadi sombong ya!” Saya: “Im in love” dan Teman saya memberi pukulan balik: “And your love need sacrifice! you cost your friends!” Saya hanya terdiam ingin rasanya membalas: SUKA SUKA GUE! but it doesn’t matter. ini jalan yang saya pilih. saya pilih dia, yang mengisi hari-hari saya setiap hari. tidak ada yang lain.
Maybe I can’t find cool analogies or write a lovey dopey poem. I definitely can’t write music. I’m an amateur writer, therefore I’m not even good with words for these kind of things.
So, I’m gonna make this simple, the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.
And I love being with you! I love your giggle, your silly face when you wear silly glasses, your energetic story-telling, your eye brow (Like Oscar in Sesame street). I love when our hands meet, i love when you say “HMMMM”,Oh and I love the way you walk, speech, the way you sing and how you apply your personality. I love when you wink your eyes. those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you have done completed me.
Thus, when they ask me: why do you love her? do you really-really love her? and I can safely say: what is not to love?
So, I was adding you to part of my awfully nice memories. Thanks.
You. Doin’ that thing you do, Breaking my heart into a million pieces, Like you always do.
And you, Don’t mean to be cruel, You never even knew about the heartache,
I’ve been going through.
Well I try and try to forget you girl, But it’s just so hard to do, Every time you do that thing you do.
I, Know all the games you play, And I’m gonna find a way to let you know that, You’ll be mine someday. Because we, Could be happy can’t you see, If you’d only let me be the one to hold you, And keep you here with me.
Cause I try and try to forget you girl, But it’s just so hard to do, Every time you do that thing you do.
I don’t ask a lot girl, But I know one thing’s for sure, It’s the love I haven’t got girl, And I just can’t take it anymore.
Cause we, Could be happy can’t you see, If you’d only let me be the one to hold you, And keep you here with me.
Cause it hurts me so just to see you go, Around with someone new, And if I know you you’re doin’ that thing, Every day just doin’ that thing, I can’t take you doing that thing you do.
The Wonders - That Thing You Do
21 mean 2 Persons in 1 Love. I Love You. Happy First Month.
there’s my happiness to make you smile, laugh and happy : )
i want to hold your hand forever, until the end of the way.